Budidaya cabe merah

Cabe merah - pupuk organik cair Ciremai

Cabai adalah salah satu komoditas hasil pertanian yang bisa mengguncang dunia karena fluktuasi harganya – seperti halnya harga minyak dunia. Namun demikian cabai sangat familier dengan petani Indonesai, karena cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah dengan pH 5-6. Dibalik pesonnya itu, tanaman cabai sangat rentan masalah, diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur hara dalam tanah serta serangan hama dan penyakit.
CV. Anugerah Karya Makmur dengan produk Pupuk Organik Cair Ciremai terus berinovasi untuk membantu petani menyelesaikan masalah tersebut. Sasaran akhirnya adalah “tercapainya peningkatan hasil panen cabai minimal 30%, dengan kualitas tinggi dan harga yang menguntungkan, serta agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani Indonesia bisa tersenyum saat panen cabai.

Fase Pengolahan Lahan
Tahapan pengolahan lahan dalam budidaya cabai meliputi pembersihan lahan, pembajakan atau pencangkulan, dan pembuatan bedengan. Pembersihan lahan areal penanaman cabai terutama dilakukan terhadap gulma yang dapat menjadi inang hama dan penyakit dan meningkatkan kelembapan lahan. Pembersihan juga dilakukan terhadap tanaman keras yang dapat menghambat penetrasi sinar matahari. Pekerjaan ini dapat dilakukan secara manual jika luas lahan yang dikelola tidak terlalu luas, atau menggunakan traktor buldozer jika lahan relatif luas dan banyak tanaman tahunan.

Lahan yang telah selesai dibersihkan dapat langsung dibajak atau dicangkul dengan kedalaman 30 – 40 cm. Sewaktu dilakukan pencangkulan ini, rumput dan sisa tanaman lunak dapat dicampur sekaligus sehingga membusuk dan dapat menjadi pupuk. Tujuan pencangkulan adalah untuk mengubah struktur tanah menjadi lebih gembur atau remah sehingga akar tanaman akan lebih mudah menembus tanah untuk mengambil zat makanan.

Tanah yang selesai dicangkul sebaiknya dibiarkan selama dua minggu agar terjadi pertukaran udara dan membunuh patogen yang merugikan. Setelah itu dilakukan pembuatan bedengan dengan tujuan untuk mencegah akar tanaman tergenang air pada musim hujan, selain untuk memudahkan pengaturan jarak tanam. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 – 12 m dengan lebar 110 – 120 cm, tinggi minimal 50 cm. Jarak antar bedengan atau lebar parit yang ideal untuk penanaman cabai pada musim hujan adalah 75 – 100 cm dengan lajur bedengan menghadap ke arah Utara – Selatan.


Fase Persemaian / perlakuan bibit

Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan (kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih + 180 gr atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram.

Benih dapat disemai langsung satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air dingin ataupun air hangat 550 – 600 selama 15 – 30 menit untuk mempercepat proses perkecambah-an dan mencucihamakan benih tersebut. Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, maka sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK dihaluskan serta Furadan atau Curater.

Sebagai pedoman untuk campuran adalah : tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang halus (1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan.

Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90% penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 – 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis.

Berikutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, maka sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama + 3 hari.

Setelah benih keluar bakal akar sepanjang 2-3 mm, dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Cara ini untuk meyakinkan daya kecambah benih yang siap disemai dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak.

Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 – 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa.

Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat tanaman muda berumur 10 – 15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

3. Fase pengelolaan tanaman

 

 

Pupuk organik cair ciremai

Pupuk organik cair CIREMAI Rp 60.000

Pada fase ini penyiraman dapat dilakukan dengan melakukan pengocoran langsung pada tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
Pemupukan dengan cara pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan campuran Pupuk organik cair Ciremai dengan air, dengan perbandingan campuran 1 tutup botol pupuk / 5 liter air ini di berikan umur 1 – 4 minggu, sedang pada umur 5-12 minggu dengan dosis 2 tutup botol pupuk / 5 liter air.

4. Fase pengendalian hama dn penyakit

Jenis hama dan penyakit yang menyerang dalam budidaya cabai merah serta cara penanganannya adalah sebagai berikut :

  • Kutu daun/Aphis , diatasi dengan : Curater diberikan pada umur 25 HST (1 gr/batang)

  • Hama Trips , diatai dengan : Lanate  2-5 EC , 2 cc/ ltr air

  • Tungau, diatasi dengan : Pagassus 500 SC, 2,5 cc/ ltr air

  • Antraknosa (Colleorchum capsici dan C. gloesporoides), diatasi dengan : Score 2 cc/ltr air Daconil 20 gr/lt air (intreval 5 hari sekali)

  • Penyakit bercak daun (Cercuspora capsici), diatasi dengan : Daconil 25 cc/ltr air (intreval 4 hari sekali)

  • Penyakit layu  (Fusarium oxysporum), diatasi dengan : Eradikasi (cabut dan bakar)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: